Resonansi Budaya dalam Cermin Seni dan Tradisi Indonesia 2017

Resonansi Budaya adalah sebuah fenomena di mana nilai-nilai, simbol, atau cerita dari satu kebudayaan terasa sangat relevan dan menyentuh hati masyarakat dari kebudayaan lain yang berbeda.

Resonansi Budaya
Resonansi Budaya

Resonansi Budaya: Membaca “Coco” dalam Cermin Seni dan Tradisi Indonesia

Oleh: MELEDAK77
Pada Tanggal: 08/01/2026

Saat film Coco pertama kali tayang, penonton di Indonesia tidak hanya terpukau oleh visualnya yang megah, tetapi juga merasa “dekat” dengan narasinya. Mengapa? Karena Indonesia, seperti Meksiko, adalah bangsa yang dibangun di atas fondasi penghormatan terhadap leluhur. Di balik warna-warni bunga Marigold dan alunan Mariachi, terdapat benang merah yang kuat dengan seni pertunjukan dan tradisi spiritual yang ada di tanah air kita.

1. Tradisi Penghormatan Leluhur: Dari Día de los Muertos ke Nyadran dan Ma’nene

Inti dari Coco adalah keyakinan bahwa orang yang sudah meninggal tetap hidup selama mereka diingat oleh yang hidup. Di Indonesia, konsep ini sangat kental.

  • Nyadran di Jawa: Sebelum memasuki bulan Ramadan, masyarakat Jawa melakukan Nyadran. Sama seperti keluarga Rivera yang membersihkan makam dan menaruh bunga, masyarakat Jawa bergotong-royong membersihkan makam leluhur, membawa doa, dan makan bersama di area pemakaman. Ini adalah bentuk komunikasi spiritual agar generasi muda tidak “putus obor” dengan sejarah mereka.

  • Ma’nene di Toraja: Jika di Coco para arwah mengunjungi dunia nyata setahun sekali, di Toraja, Sulawesi Selatan, terdapat tradisi Ma’nene. Keluarga mengeluarkan jenazah leluhur dari liang batu, membersihkannya, dan menggantikan pakaiannya. Ini adalah bentuk cinta yang ekstrem namun tulus, menunjukkan bahwa kematian tidak memisahkan ikatan keluarga.

2. Musik sebagai Jembatan Spiritual: Mariachi dan Gamelan

Dalam Coco, musik adalah media komunikasi dengan dunia roh. Di Indonesia, musik tradisional memiliki fungsi yang serupa.

  • Gamelan dan Ritual: Dalam banyak upacara adat di Bali dan Jawa, gamelan bukan sekadar hiburan. Getaran suara gong dan saron dianggap mampu menembus dimensi lain. Musik menjadi pengantar bagi doa-doa untuk sampai ke telinga Sang Pencipta dan para leluhur.

  • Wayang Kulit: Jika Miguel menemukan sejarah keluarganya melalui lagu, masyarakat kita mengenal leluhur dan nilai moral melalui pertunjukan Wayang Kulit. Dalang bertindak seperti pemandu roh, menghidupkan kembali tokoh-tokoh masa lalu untuk memberi pelajaran bagi yang hidup di masa kini.

3. Seni Visual dan Simbolisme: Alebrijes vs. Mitologi Nusantara

Karakter Alebrijes dalam Coco adalah makhluk hibrida yang menjadi pemandu roh. Indonesia memiliki kekayaan seni visual serupa dalam bentuk makhluk mitologi.

  • Barong di Bali: Seperti Pepita (sang macan bersayap), Barong adalah simbol pelindung. Dalam seni tari dan patung, Barong digambarkan sebagai makhluk komposit yang mewakili kekuatan kebajikan. Keduanya merupakan perwujudan seni yang lahir dari imajinasi kolektif tentang perlindungan spiritual.

  • Garuda: Simbol nasional kita juga merupakan makhluk hibrida yang dalam mitologi Hindu-Buddha adalah kendaraan (wahana) dewa. Ini menunjukkan bahwa dalam seni rupa kita, hewan sering kali diberi sifat ilahi untuk menjembatani dunia fisik dan metafisik.

4. Seni Kertas dan Dekorasi: Papel Picado dan Janur

Adegan pembuka Coco menggunakan Papel Picado untuk menceritakan sejarah. Di Indonesia, kita memiliki seni Janur atau Kala Makara.

  • Janur: Dalam pernikahan atau upacara keagamaan di Bali dan Jawa, janur kuning yang diukir dengan rumit bukan sekadar hiasan. Ia adalah tanda kehadiran “hajatan” yang sakral, sekaligus penghubung doa antara bumi dan langit. Keindahan memotong dan melipat janur memiliki tingkat kerumitan yang setara dengan seni memotong kertas di Meksiko.

5. Konflik Modernitas vs. Tradisi: Fenomena Miguel di Indonesia

Konflik Miguel yang ingin menjadi musisi namun dilarang keluarga karena trauma masa lalu sangat relevan dengan banyak anak muda di Indonesia.

Di Indonesia, kita sering menghadapi tekanan untuk mengikuti jejak keluarga (misalnya menjadi PNS atau dokter) dan meninggalkan seni yang dianggap “tidak menjanjikan”. Coco mengajarkan bahwa menghormati tradisi bukan berarti mematikan aspirasi pribadi. Justru, seni modern yang kita ciptakan bisa menjadi cara baru untuk menghormati warisan tersebut. Seniman-seniman muda Indonesia saat ini banyak yang melakukan “kontemporerisasi” seni tradisi—seperti musik keroncong yang dipadu dengan pop—sebagai bentuk update agar tradisi tidak mati ditelan zaman.

6. Pentingnya Memori: “Jangan Sampai Hilang dalam Ingatan”

Pesan paling mengharukan dari Coco adalah tentang “Kematian Terakhir”, yaitu ketika tidak ada lagi yang mengingat kita. Di Indonesia, ini berkaitan dengan tradisi Silsilah atau Sarsilah.

Banyak masyarakat adat di Indonesia (seperti Batak dengan Tarombo-nya) memiliki catatan silsilah yang sangat kuat. Mengetahui siapa kakek dari kakek kita adalah sebuah keharusan. Film Coco seolah memberikan pengingat visual bagi kita untuk kembali membuka buku silsilah tersebut, menaruh foto kakek-nenek di meja kerja, dan menceritakan kisah mereka kepada anak-anak kita agar mereka tidak mengalami “kematian terakhir”.

7. Penutup: Mengambil Pelajaran dari Coco untuk Indonesia

Meskipun film ini produk luar negeri, pelajaran seninya sangat universal. Indonesia memiliki potensi luar biasa jika mampu mengemas tradisi seperti Nyadran, Ma’nene, atau seni Gamelan ke dalam media modern seperti film animasi atau gim video.

Coco menunjukkan bahwa budaya lokal yang dikerjakan dengan riset mendalam dan rasa hormat yang tinggi dapat diterima oleh dunia tanpa kehilangan jati dirinya. Ini adalah tantangan bagi para seniman Indonesia: Bagaimana kita bisa menceritakan kekayaan budaya kita sendiri dengan kualitas yang sama, sehingga dunia tahu bahwa di nusantara pun, “keluarga adalah segalanya dan tradisi adalah cahaya yang menuntun jalan pulang.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top