Bauhaus: Gerakan yang menyatukan seni, kerajinan, dan teknologi. Tahun 2026 tetap menjadi waktu yang relevan untuk mengunjungi sekolah aslinya di Weimar dan Dessau.

Bauhaus: Revolusi Desain yang Mengubah Wajah Dunia
Oleh: JETSPIN88
Pada Tanggal: 30/01/2026
Di tengah reruntuhan fisik dan psikologis Eropa pasca-Perang Dunia I, sebuah ide radikal lahir di kota kecil Weimar, Jerman. Tahun 1919 bukan sekadar tahun transisi politik bagi Republik Weimar, melainkan tahun nol bagi estetika modern. Walter Gropius, seorang arsitek visioner, mendirikan Staatliches Bauhaus, sebuah sekolah seni yang tidak hanya mengajarkan cara melukis atau memahat, tetapi cara merancang masa depan.
Lebih dari satu abad kemudian, pada tahun 2026, warisan Bauhaus bukan sekadar artefak museum. Ia adalah napas dari desain kontemporer. Mengunjungi situs-situs aslinya di Weimar dan Dessau tetap menjadi perjalanan ziarah intelektual bagi siapa pun yang menghargai harmoni antara fungsi dan keindahan.
1. Filosofi Dasar: Menyatukan Seni dan Industri
Sebelum Bauhaus, terdapat jurang pemisah yang lebar antara “Seniman” (yang menciptakan karya estetis yang tidak berguna secara praktis) dan “Pengrajin” (yang menciptakan barang berguna namun sering kali tanpa nilai seni tinggi). Gropius ingin menghancurkan tembok ini.
“Form Follows Function”
Meskipun kutipan ini sering diatribusikan kepada Louis Sullivan, Bauhaus adalah pihak yang mempopulerkannya secara global. Prinsipnya sederhana: bentuk suatu benda harus ditentukan oleh fungsinya. Jika sebuah kursi tidak nyaman diduduki, keindahannya tidak ada artinya. Jika sebuah bangunan sulit ditinggali, ornamen mewahnya adalah kegagalan.
Gesamtkunstwerk (Karya Seni Total)
Konsep ini memandang bahwa arsitektur bukan sekadar struktur, melainkan sebuah wadah yang menyatukan segala bentuk seni—mulai dari furnitur, tekstil, tipografi, hingga pencahayaan. Di Bauhaus, seorang siswa belajar untuk melihat dunia sebagai satu kesatuan desain yang utuh.
2. Tiga Fase Perjalanan Bauhaus
Eksistensi Bauhaus yang singkat (1919–1933) secara unik terbagi dalam tiga lokasi yang mencerminkan evolusi politik dan artistik Jerman.
A. Fase Weimar (1919–1925): Ekspresionisme dan Eksperimen
Di Weimar, Bauhaus dimulai dengan semangat bohemian. Johannes Itten, salah satu guru awal, membawa pengaruh mistis dan fokus pada teori warna yang ekspresif. Pada fase ini, sekolah masih sangat dipengaruhi oleh gerakan seni kerajinan tangan (Arts and Crafts). Namun, tekanan politik mulai memaksa sekolah ini pindah ketika pemerintah konservatif di Weimar mulai memangkas pendanaan.
B. Fase Dessau (1925–1932): Masa Kejayaan Modernisme
Ini adalah masa paling ikonik. Di Dessau, Gropius merancang gedung sekolah Bauhaus yang terkenal dengan fasad kaca besarnya—sebuah keajaiban arsitektur pada masanya. Di sini, fokus bergeser dari kerajinan tangan ke desain industri. Tujuannya adalah menciptakan prototipe produk yang bisa diproduksi secara massal agar seni dapat dinikmati oleh rakyat jelata, bukan hanya kaum elit.
C. Fase Berlin (1932–1933): Tekanan dan Penutupan
Di bawah pimpinan Ludwig Mies van der Rohe, Bauhaus pindah ke Berlin sebagai sekolah swasta setelah Nazi menguasai Dessau. Namun, rezim Nazi menganggap Bauhaus sebagai pusat “Bolshevik budaya” dan seni yang menyimpang (Entartete Kunst). Sekolah ini akhirnya dipaksa tutup pada tahun 1933, namun ini justru menjadi awal dari penyebaran pengaruhnya ke seluruh dunia melalui diaspora para pengajarnya.
3. Kurikulum yang Revolusioner: “Roda Bauhaus”
Salah satu kontribusi terbesar Bauhaus pada pendidikan seni dunia adalah struktur kurikulumnya. Sebelum masuk ke spesialisasi, setiap siswa wajib mengikuti Vorkurs (Kursus Pendahuluan).
-
Vorkurs: Siswa diajak untuk “melupakan” semua aturan seni tradisional. Mereka bereksperimen dengan material (logam, kayu, tekstil) dan warna dasar tanpa prasangka.
-
Workshop: Setelah lulus kursus pendahuluan, siswa masuk ke bengkel kerja spesialisasi.
-
Bengkel Logam: Tempat lahirnya lampu ikonik Marianne Brandt.
-
Bengkel Tekstil: Salah satu departemen paling sukses secara finansial, dipimpin oleh tokoh seperti Gunta Stölzl.
-
Bengkel Kayu: Fokus pada furnitur modular yang hemat ruang.
-
4. Tokoh-Tokoh Kunci dan Warisan Mereka
Bauhaus adalah kumpulan talenta luar biasa yang masing-masing membawa warna unik ke dalam sekolah.
Walter Gropius: Sang Konseptor
Gropius adalah diplomat seni. Ia berhasil menyatukan kepribadian-kepribadian besar yang sering kali bertabrakan demi satu visi besar: arsitektur modern yang fungsional.
Wassily Kandinsky & Paul Klee: Spiritualisme dalam Warna
Meskipun Bauhaus dikenal karena rasionalitasnya, kehadiran dua pelukis abstrak ini memberikan kedalaman teoritis. Mereka mengajar siswa tentang bagaimana warna dan bentuk mempengaruhi psikologi manusia.
Marcel Breuer: Kursi Wassily
Breuer terinspirasi oleh rangka sepeda baja saat merancang Kursi Wassily. Penggunaan pipa baja ringan ini merevolusi desain furnitur abad ke-20, menciptakan kesan transparan dan modern yang belum pernah ada sebelumnya.
Marianne Brandt: Wanita di Bengkel Logam
Di masa ketika wanita sering kali “dibuang” ke bengkel tekstil, Brandt membuktikan kemampuannya di bengkel logam yang didominasi pria. Teko teh dan lampu rancangannya kini menjadi barang koleksi yang harganya mencapai miliaran rupiah.
5. Mengapa Mengunjungi Jerman pada 2026?
Tahun 2026 adalah momen krusial untuk mengunjungi situs-situs Bauhaus karena selesainya berbagai proyek restorasi dan modernisasi fasilitas museum yang telah dimulai sejak peringatan 100 tahun Bauhaus di 2019.
Weimar: Titik Awal
Di Weimar, Anda dapat mengunjungi Museum Bauhaus Weimar yang baru. Museum ini menampilkan koleksi awal Gropius. Jangan lewatkan Haus am Horn, rumah contoh pertama yang dibangun berdasarkan prinsip Bauhaus yang menunjukkan bagaimana kehidupan modern seharusnya dijalani.
Dessau: Kota Bauhaus yang Sebenarnya
Dessau adalah destinasi utama. Anda bisa menginap di Prellerhaus (studio mahasiswa asli), mengunjungi Meisterhäuser (Rumah para Master) tempat Kandinsky dan Klee tinggal, serta melihat Bauhaus Museum Dessau yang menyimpan koleksi artefak desain terbesar kedua di dunia.
Berlin: Pusat Arsip
Di Berlin, Bauhaus-Archiv / Museum für Gestaltung biasanya menjadi pusat penelitian. Pada tahun 2026, diharapkan perluasan museum ini telah sepenuhnya terintegrasi dengan pameran-pameran digital interaktif yang membawa desain masa lalu ke konteks masa depan.
6. Kritik dan Kontroversi: Sisi Lain Bauhaus
Sebagai AI yang objektif, saya perlu menyampaikan bahwa Bauhaus tidak lepas dari kritik. Meski mengusung kesetaraan, pada tahun-tahun awal, mahasiswi tetap diarahkan ke bengkel tekstil karena dianggap tidak cocok untuk pekerjaan kasar seperti pertukangan. Selain itu, estetika “kotak kaca” Bauhaus sering dikritik karena dianggap terlalu dingin, tidak manusiawi, dan tidak cocok untuk iklim tertentu.
Namun, justru dalam kritik inilah Bauhaus terus tumbuh. Gerakan desain setelahnya, seperti Post-modernisme, lahir sebagai reaksi terhadap kekakuan Bauhaus, namun tetap menggunakan dasar-dasar yang diletakkan oleh Gropius dkk.
7. Bauhaus di Abad ke-21: Dari IKEA hingga Apple
Jika Anda bertanya-tanya mengapa laptop Anda memiliki sudut yang melengkung sempurna atau mengapa antarmuka aplikasi di ponsel Anda terlihat bersih, jawabannya adalah Bauhaus.
-
IKEA: Konsep furnitur flat-pack dan harga terjangkau untuk massa adalah mimpi Bauhaus yang menjadi kenyataan secara komersial.
-
Apple: Steve Jobs dan Jony Ive sangat dipengaruhi oleh prinsip Dieter Rams, yang merupakan pewaris spiritual dari filosofi Bauhaus. “Less is more” (yang dipopulerkan oleh Mies van der Rohe) adalah inti dari produk Apple.
-
Keberlanjutan (Sustainability): Di tahun 2026, prinsip Bauhaus diterapkan dalam “New European Bauhaus” untuk menjawab tantangan perubahan iklim melalui arsitektur hijau yang estetis namun fungsional.
Kesimpulan
Bauhaus lebih dari sekadar gaya arsitektur; ia adalah cara berpikir. Ia mengajarkan kita bahwa dunia yang teratur, efisien, dan indah bisa diakses oleh siapa saja, bukan hanya mereka yang memiliki kekuasaan. Perjalanan ke Weimar dan Dessau pada tahun 2026 bukan hanya tentang melihat bangunan tua, tetapi tentang memahami bagaimana ide-ide dari satu abad yang lalu masih memandu tangan para desainer saat mereka menggambar masa depan kita.

