Majas Gaya Bahasa dunia sastra 2026

Majas (Gaya Bahasa): Penggunaan bahasa kiasan untuk menciptakan kesan tertentu (misal: metafora, personifikasi). Majas atau Gaya Bahasa adalah membicarakan tentang “sihir” dalam dunia sastra.

Majas Gaya Bahasa dunia sastra 2026
Majas Gaya Bahasa dunia sastra 2026

Arsitektur Kata: Menyelami Kedalaman Majas sebagai Jantung Estetika Bahasa

Oleh: JETSPIN88
Pada Tanggal: 18/02/2026

Dalam komunikasi sehari-hari, kita cenderung menggunakan bahasa denotatif—bahasa yang maknanya lugas dan apa adanya. Namun, dalam seni puisi dan prosa, bahasa denotatif sering kali terasa tidak cukup untuk menampung ledakan emosi manusia. Di sinilah Majas masuk sebagai jembatan. Majas adalah penggunaan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek estetis yang membuat sebuah karya sastra menjadi lebih hidup.

1. Filosofi di Balik Gaya Bahasa

Mengapa manusia menciptakan majas? Secara psikologis, manusia tidak hanya memproses informasi secara logika, tetapi juga secara imajinatif. Ketika seorang penyair berkata, “Hatiku adalah padang ilalang yang terbakar,” ia tidak sedang memberikan laporan cuaca atau kondisi geografis. Ia sedang mentransfer rasa sakit, kemarahan, atau kehampaan secara instan ke dalam benak pendengar melalui perbandingan visual.

Majas berfungsi untuk:

  • Menciptakan Kesan Imajinatif: Mengajak pembaca membayangkan sesuatu di luar makna harfiah.

  • Menekankan Emosi: Memberikan penekanan pada perasaan tertentu agar lebih “menggigit”.

  • Mempercantik Kalimat: Memberikan ritme dan musikalitas pada teks.

  • Menyederhanakan Konsep Kompleks: Menggunakan analogi untuk menjelaskan sesuatu yang abstrak.


2. Klasifikasi Majas: Empat Pilar Utama

Secara umum, dalam sastra Indonesia, majas dibagi ke dalam empat kelompok besar: Perbandingan, Pertentangan, Sindiran, dan Penegasan.

A. Majas Perbandingan (The Art of Analogy)

Ini adalah kelompok majas yang paling sering digunakan untuk menciptakan citraan visual.

  1. Metafora: Perbandingan secara langsung antara dua hal yang berbeda namun memiliki sifat yang sama tanpa menggunakan kata hubung (seperti, bak, laksana).

    • Contoh: “Ia adalah bunga desa yang layu sebelum berkembang.”

    • Analisis: Metafora ini langsung menyatukan konsep ‘wanita cantik’ dengan ‘bunga’.

  2. Personifikasi: Memberikan sifat-sifat manusia kepada benda mati atau makhluk selain manusia.

    • Contoh: “Pena itu menari-nari di atas kertas, menumpahkan segala resah.”

    • Analisis: Pena tidak bisa menari, namun penggunaan kata ini memberikan kesan gerakan yang lincah dan emosional.

  3. Simile (Perumpamaan): Perbandingan yang menggunakan kata hubung eksplisit.

    • Contoh: “Wajahnya pucat seperti bulan kesiangan.”

  4. Hiperbola: Ungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan hingga terasa tidak masuk akal untuk memberi penekanan kuat.

    • Contoh: “Suaranya menggelegar membelah angkasa.”

B. Majas Pertentangan (The Power of Contrast)

Majas ini menggunakan kata-kata yang berlawanan untuk menciptakan efek dramatis.

  1. Paradoks: Pernyataan yang seolah-olah berlawanan dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran.

    • Contoh: “Ia merasa kesepian di tengah keramaian kota Jakarta.”

  2. Antitesis: Menggunakan pasangan kata yang berlawanan makna dalam satu deretan kalimat yang sejajar.

    • Contoh:Tua muda, kaya miskin, semuanya memiliki derajat yang sama di mata Tuhan.”

C. Majas Sindiran (The Edge of Satire)

Digunakan untuk mengungkapkan sesuatu dengan maksud menyindir secara halus hingga kasar.

  1. Ironi: Sindiran yang paling halus, di mana apa yang dikatakan berlawanan dengan kenyataan (seringkali dengan maksud mengejek).

    • Contoh: “Rajin sekali kamu, matahari sudah di atas kepala baru bangun.”

  2. Sarkasme: Sindiran yang kasar dan langsung menukik pada maksud, seringkali bertujuan untuk menyakiti perasaan.

    • Contoh: “Mulutmu harimaumu, jangan bicara kalau hanya sampah yang keluar.”

D. Majas Penegasan (The Strength of Repetition)

Digunakan untuk memperkuat pengaruh suatu pernyataan.

  1. Pleonasme: Menggunakan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu karena maknanya sudah terkandung dalam kata sebelumnya.

    • Contoh: “Ia turun ke bawah dengan tergesa-gesa.” (Turun pastilah ke bawah, namun ini digunakan untuk penekanan gerakan).

  2. Repetisi: Pengulangan kata, frasa, atau klausa yang sama dalam satu kalimat atau paragraf untuk memperkuat makna.

    • Contoh: “Cinta itu sabar, cinta itu murah hati, cinta itu tidak sombong.”


3. Majas dalam Konteks Modern 2026

Di era digital tahun 2026, penggunaan majas tidak hanya terbatas pada buku puisi. Kita melihat majas di mana-mana:

  • Copywriting Iklan: “Baterai ini setia menemani hingga akhir hari” (Personifikasi).

  • Judul Berita (Clickbait): “Harga Emas Terjun Bebas” (Hiperbola).

  • Media Sosial: Penggunaan metafora visual dalam meme atau video pendek.

Majas membantu konten digital yang singkat menjadi lebih “bernyawa” dan mudah diingat oleh audiens yang memiliki rentang perhatian (attention span) pendek.


4. Cara Menggunakan Majas dengan Efektif

Seorang penulis yang baik tidak akan menumpuk majas dalam satu paragraf hingga membuat pembaca pusing. Berikut tipsnya:

  1. Kesesuaian Konteks: Jangan gunakan hiperbola yang terlalu megah untuk situasi yang remeh, kecuali jika tujuannya adalah komedi.

  2. Keaslian (Originalitas): Hindari metafora yang sudah terlalu sering digunakan (klise), seperti “darah biru” atau “tulang punggung”. Cobalah mencari perbandingan baru yang segar.

  3. Fokus pada Emosi: Pilih majas yang paling mampu mewakili perasaan karakter atau suasana yang ingin dibangun.


5. Kesimpulan: Bahasa adalah Kanvas

Seni majas adalah bukti bahwa manusia adalah makhluk yang kreatif. Kita tidak puas dengan hanya mengatakan “hujan turun deras”. Kita ingin mengatakan “langit sedang menangis”, karena di dalam tangisan itu ada kesedihan, ada pembersihan, dan ada harapan.

Dengan memahami dan menguasai majas, kita tidak hanya belajar menulis, tetapi belajar melihat dunia dengan cara yang lebih berwarna. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi; ia adalah kanvas, dan majas adalah kuas yang memberikan detail-detail ajaib pada lukisan realitas kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top