Art Jakarta Papers 2026: Ini adalah salah satu acara seni rupa terbesar bulan ini yang baru saja sukses digelar di City Hall, Pondok Indah Mall (PIM) 3 (5-8 Februari). Pameran ini khusus menyoroti karya seni dengan medium kertas sebagai pusat eksplorasi seni kontemporer.

Art Jakarta Papers 2026: Ketika Kertas Menjadi Episentrum Kreativitas Kontemporer
Oleh: JETSPIN88
Pada Tanggal: 13/02/2026
Jakarta kembali mengukuhkan posisinya sebagai kiblat seni rupa di Asia Tenggara. Pada tanggal 5 hingga 8 Februari 2026, City Hall, Pondok Indah Mall (PIM) 3 disulap menjadi sebuah labirin estetik dalam perhelatan Art Jakarta Papers 2026. Berbeda dengan pameran seni utama yang biasanya didominasi oleh lukisan kanvas besar atau instalasi teknologi tinggi, Papers secara spesifik memberikan panggung utama bagi medium yang paling mendasar dalam sejarah manusia: Kertas.
Keberhasilan acara ini bukan hanya diukur dari jumlah pengunjung yang memadati area pameran, tetapi dari bagaimana para seniman berhasil mendobrak batasan fisik kertas menjadi karya yang provokatif dan emosional.
1. Filosofi di Balik “Papers”: Kembali ke Akar
Di tengah gempuran seni digital, NFT, dan AI, Art Jakarta Papers 2026 hadir sebagai antitesis yang menyegarkan. Kurator pameran tahun ini menekankan pada konsep “Taktilitas dan Memori”. Kertas dipilih karena sifatnya yang organik, rapuh, namun mampu menyimpan jejak waktu dengan sangat baik.
Bagi banyak seniman, kertas adalah media pertama tempat ide lahir. Namun di pameran ini, kertas bukan lagi sekadar draf atau sketsa kasar; ia adalah tujuan akhir. Melalui teknik potong, lipat, bubur kertas (pulp), hingga oksidasi, kertas bertransformasi menjadi objek seni yang memiliki dimensi dan volume.
2. Sorotan Utama: Karya yang Mencuri Perhatian
Beberapa karya menjadi pembicaraan hangat selama empat hari pameran berlangsung:
Instalasi “The Silent Giant” karya Iwan Effendi
Seniman asal Yogyakarta, Iwan Effendi, memukau pengunjung dengan instalasi boneka kertas raksasa setinggi 2,5 meter. Dengan struktur yang tampak rapuh namun kokoh, karya ini mengeksplorasi sisi kerentanan manusia. Tekstur kertas yang terlihat seperti kulit keriput memberikan kesan melankolis yang mendalam.
Seri “Kertas Bungkus” karya Ugo Untoro
Maestro Ugo Untoro kembali mengejutkan dengan kejujurannya. Ia menggunakan media kertas bungkus rokok dan koran bekas untuk menyuarakan kritik sosial. Baginya, kertas bekas adalah artefak kehidupan sehari-hari yang paling jujur dalam merekam jejak peradaban manusia yang konsumtif.
Eksplorasi Geometris oleh Seniman Muda
Banyak seniman muda yang memanfaatkan teknologi laser-cut di atas kertas acid-free untuk menciptakan bayangan geometris yang rumit. Hal ini membuktikan bahwa kertas bisa bersanding dengan presisi teknologi modern tanpa kehilangan jiwa organiknya.
3. Dinamika Pasar Seni di Art Jakarta Papers
Pameran ini juga menjadi angin segar bagi para kolektor, baik kolektor mapan maupun pemula. Mengapa demikian?
-
Aksesibilitas Harga: Secara umum, karya berbasis kertas cenderung lebih terjangkau dibandingkan lukisan minyak berukuran besar, sehingga menarik minat kolektor muda yang baru mulai membangun aset seni mereka.
-
Keunikan (Uniqueness): Meskipun menggunakan kertas, karya-karya yang ditampilkan bersifat one-of-a-kind. Teknik seperti paper weaving atau embossing manual memberikan nilai eksklusivitas yang tinggi.
-
Kemudahan Konservasi: Dengan teknologi bingkai dan kaca pelindung sinar UV modern, kekhawatiran mengenai ketahanan kertas terhadap cuaca tropis Jakarta kini bukan lagi menjadi penghalang bagi kolektor.
| Data Singkat Pameran | Keterangan |
| Lokasi | City Hall, PIM 3, Jakarta Selatan |
| Jumlah Galeri | 25+ Galeri Lokal & Internasional |
| Medium Utama | Kertas (Handmade, Recycled, Industrial) |
| Pengunjung | Estimasi 15.000+ dalam 4 hari |
4. Lokasi yang Strategis: Seni Menuju Publik
Pemilihan Pondok Indah Mall 3 sebagai lokasi pameran adalah langkah strategis untuk mendekatkan seni rupa kepada publik yang lebih luas. Berbeda dengan museum yang terkadang terasa “intimidatif”, mall menawarkan suasana yang lebih santai. Hal ini terbukti dengan banyaknya keluarga dan anak muda yang datang, menunjukkan bahwa apresiasi terhadap seni kontemporer di Jakarta semakin inklusif.
5. Dampak Bagi Ekosistem Seni Indonesia
Art Jakarta Papers 2026 berhasil membuktikan bahwa sebuah pameran bertema khusus (niche) memiliki daya tarik yang sangat kuat. Ini memberikan ruang bagi seniman yang selama ini mungkin kurang terekspos karena fokus mereka pada medium kertas. Selain itu, pameran ini mendorong dialog antara seniman, kurator, dan pengrajin kertas lokal untuk terus berinovasi dalam menciptakan material yang berkualitas tinggi.
Kesimpulan: Kertas yang Tidak Pernah Usai
Jika kita melihat ke belakang, Art Jakarta Papers 2026 adalah pengingat bahwa di balik kesederhanaannya, kertas menyimpan kemungkinan yang tak terbatas. Ia bisa menjadi sekeras batu, sehalus kulit, atau seringan angin.
Pameran ini sukses meninggalkan kesan mendalam: bahwa keindahan tidak selalu harus megah dan mahal, terkadang ia ada pada goresan tinta di atas selembar kertas yang jujur.

