Media Art Imersif: Penggunaan AI, Augmented Reality (AR), dan XR (Extended Reality) menjadi standar baru. Contohnya pameran “Tradition in Motion” yang menghidupkan warisan budaya era Joseon melalui proyeksi digital dan AI.

Revolusi Digital di Tanah Joseon: Masa Depan Media Art Imersif Korea 2026
Oleh: MELEDAK77
Pada Tanggal: 26/01/2026
Di jantung kota Seoul yang futuristik, di mana gedung pencakar langit berselimut layar LED raksasa bersaing dengan atap melengkung istana kuno, sebuah revolusi sedang terjadi. Namun, revolusi ini tidak melibatkan senjata atau politik; ia melibatkan piksel, algoritma, dan memori kolektif bangsa. Selamat datang di era Media Art Imersif, sebuah standar baru dalam estetika global di mana Korea Selatan telah mengukuhkan dirinya sebagai pemimpin tanpa tandingan.
Pada tahun 2026, istilah “melihat seni” telah dianggap kuno. Di galeri-galeri seperti Leeum, MMCA, hingga ruang publik di Gwanghwamun, orang tidak lagi berdiri di depan bingkai. Mereka masuk ke dalamnya. Mereka bernapas di dalamnya. Dan yang paling mengagumkan, melalui teknologi AI dan XR (Extended Reality), seni tersebut kini bisa “merasakan” kehadiran manusia dan bereaksi terhadapnya.
I. Evolusi Cahaya: Dari Nam June Paik hingga AI Generatif
Untuk memahami mengapa Korea begitu dominan dalam seni media, kita harus menengok ke belakang pada sosok Nam June Paik. Sebagai bapak video art, Paik pernah meramalkan bahwa televisi dan media elektronik akan menjadi kanvas baru bagi kemanusiaan. Di tahun 2026, ramalan itu telah berevolusi menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks.
Jika dulu seni media hanya bersifat satu arah—penonton menonton layar—kini teknologi Artificial Intelligence (AI) telah mengubah karya seni menjadi organisme hidup. AI tidak lagi hanya digunakan untuk menciptakan gambar statis, tetapi untuk memproses data lingkungan secara real-time. Di Seoul, pameran seni imersif menggunakan sensor LiDAR dan pengenalan emosi berbasis AI untuk mengubah warna, suara, dan bentuk instalasi sesuai dengan suasana hati atau jumlah pengunjung dalam ruangan.
II. Membedah “Tradition in Motion”: Jembatan Antar Zaman
Salah satu pameran yang menjadi buah bibir kritikus internasional tahun ini adalah “Tradition in Motion”. Pameran ini bukan sekadar pameran sejarah digital; ia adalah sebuah rekayasa ulang atas identitas bangsa Korea.
Proyeksi Digital Era Joseon
Fokus utama pameran ini adalah menghidupkan kembali lukisan-lukisan dari era Joseon (1392–1910). Bayangkan berjalan di sebuah lorong gelap yang tiba-tiba meledak dengan warna-warna dari lukisan Ilworobongdo (Lukisan Matahari, Bulan, dan Lima Puncak). Melalui teknik projection mapping beresolusi 16K, air terjun dalam lukisan tersebut tampak mengalir di dinding galeri, sementara lantai berubah menjadi permukaan air yang beriak saat kaki pengunjung melangkah.
Peran AI dalam Restorasi Estetika
Yang membuat “Tradition in Motion” istimewa adalah penggunaan AI untuk mengisi celah sejarah. Kurator menggunakan algoritma Deep Learning untuk mempelajari sapuan kuas para master kuno. AI kemudian “melanjutkan” lukisan yang belum selesai atau menciptakan pemandangan baru yang konsisten dengan gaya seni abad ke-18. Ini bukan sekadar imitasi; ini adalah kolaborasi antara kecerdasan buatan abad ke-21 dengan estetika tradisional.
III. Teknologi di Balik Layar: AR, VR, dan XR
Istilah XR (Extended Reality) menjadi kata kunci utama dalam industri kreatif Korea tahun 2026. XR mencakup spektrum luas yang menggabungkan lingkungan fisik dan digital.
-
Augmented Reality (AR) di Ruang Publik: Pengunjung di sekitar Istana Gyeongbokgung kini dapat menggunakan kacamata AR ringan untuk melihat prajurit penjaga gerbang dalam wujud digital yang sangat detail, melakukan upacara pergantian penjaga sesuai catatan sejarah yang akurat.
-
Imersi Sensorik: Seni imersif tidak lagi hanya soal mata. Pameran modern menyertakan elemen haptik (getaran), aromatik (bau kayu pinus atau dupa kuno), dan audio spasial 360 derajat yang mengikuti posisi kepala pendengar.
-
Holografi Berbasis AI: Dalam “Tradition in Motion”, sosok Raja Sejong ditampilkan dalam bentuk hologram interaktif yang didorong oleh Large Language Model (LLM) yang telah dilatih dengan teks-teks sejarah, memungkinkan pengunjung untuk melakukan dialog singkat mengenai filosofi penciptaan abjad Hangeul.
Catatan Kuratorial: “Seni media bukan lagi tentang teknologi yang dipamerkan, melainkan tentang bagaimana teknologi tersebut membuat kita merasa lebih ‘manusia’ saat terhubung kembali dengan akar budaya kita.”
IV. Dampak Sosiokultural: Demokratisasi Seni
Salah satu pencapaian terbesar dari tren media art ini adalah runtuhnya dinding eksklusivitas galeri. Di masa lalu, seni sering dianggap sebagai konsumsi kaum elit. Namun, media art yang bersifat imersif dan Instagrammable menarik minat generasi Z dan Alpha secara masif.
Di Distrik Gangnam dan Hongdae, kafe-kafe kini berfungsi sebagai galeri mini. Mereka menyewa lisensi karya media art digital untuk ditampilkan di dinding mereka, menciptakan lingkungan yang terus berubah setiap jamnya. Hal ini menciptakan ekosistem ekonomi baru bagi seniman digital muda di Korea.

