Seni Kertas di Indonesia (Art Jakarta Papers 2026) Baru saja digelar pada Februari-Maret 2026, Art Jakarta Papers menjadi sorotan utama. Ini adalah pameran perdana yang fokus sepenuhnya pada medium kertas.

Kertas yang Bicara: Revolusi Materialitas dalam Art Jakarta Papers 2026
Oleh: JETSPIN88
Pada Tanggal: 19/03/2026
Dunia seni rupa Indonesia baru saja melewati sebuah titik balik penting. Di tengah gempuran seni digital, NFT, dan instalasi berbasis kecerdasan buatan (AI), Art Jakarta Papers 2026 hadir sebagai sebuah antitesis yang menenangkan sekaligus mengejutkan. Digelar di Jakarta (Pondok Indah Mall 3), pameran ini bukan sekadar bazar seni biasa; ia adalah sebuah pernyataan tentang kembalinya manusia pada materialitas yang paling dasar: Kertas.
1. Filosofi di Balik “Papers”: Mengapa Kertas?
Selama berabad-abad, kertas dipandang sebagai medium “preliminari” atau awal. Pelukis besar seperti Raden Saleh atau Basoeki Abdullah menggunakan kertas untuk mencorat-coret ide sebelum memindahkannya ke kanvas besar. Namun, di tahun 2026, persepsi ini dibongkar total.
Art Jakarta Papers 2026 mengusung tema “Fragility and Fortitude” (Kerapuhan dan Keteguhan). Kertas dipilih karena sifatnya yang paradoksal. Di satu sisi, ia mudah robek, terbakar, dan menguning dimakan usia (rapuh). Di sisi lain, kertas adalah penyimpan peradaban manusia yang paling setia; ia menyimpan hukum, puisi, cinta, dan sejarah (teguh).
Keputusan kolektif para kurator untuk membatasi medium hanya pada kertas menantang para seniman untuk berpikir di luar kotak. Bagaimana menciptakan kedalaman (volume) tanpa mengandalkan tekstur tebal cat minyak? Bagaimana menciptakan keabadian dalam medium yang fana?
2. Naufal Abshar dan Strategi “Catur” Hidup
Salah satu sorotan utama yang paling banyak dibicarakan di media sosial maupun kalangan kolektor adalah instalasi dari Naufal Abshar. Seniman yang dikenal dengan gaya Laughter dan kritik sosialnya ini menghadirkan sesuatu yang sangat berbeda tahun ini.
Naufal menampilkan instalasi berskala besar bertajuk “The Paper Gambit”. Menggunakan teknik papier-mâché yang sangat halus, ia menciptakan bidak-bidak catur raksasa yang tampak seperti porselen namun sebenarnya terbuat dari tumpukan koran bekas dan kertas daur ulang.
-
Metafora Investasi: Karya ini adalah satir terhadap dunia investasi global tahun 2026 yang seringkali terasa seperti spekulasi kosong.
-
Keintiman Tekstur: Meskipun dari jauh terlihat padat, saat pengunjung mendekat, mereka bisa melihat serat-serat kertas yang kasar, mengingatkan bahwa segala strategi hebat manusia pada akhirnya hanyalah tumpukan “kertas” yang bisa hancur kapan saja.
3. Iwan Effendi: Jiwa dalam Lipatan Kertas
Jika Naufal bermain dengan skala besar, Iwan Effendi bermain dengan kedalaman emosi. Terkenal lewat karyanya di Papermoon Puppet Theatre, Iwan membawa estetika boneka kertas ke level galeri seni rupa murni.
Karyanya yang berjudul “Silent Conversations” terdiri dari serangkaian wajah manusia yang dibentuk dari teknik paper sculpting. Setiap kerutan di wajah patung tersebut tidak digambar, melainkan diciptakan melalui lipatan dan tekanan tangan. Iwan berhasil membuktikan bahwa kertas memiliki “memori”. Setiap lipatan yang salah tidak bisa dihapus, ia menjadi bagian dari karakter patung tersebut. Ini adalah refleksi tentang luka dan pengalaman hidup manusia yang membentuk kepribadian kita.
4. Ruang MES 56 dan Eksperimen Fotografi Kertas
Kolektif asal Yogyakarta, Ruang MES 56, memberikan kontribusi paling eksperimental. Mereka tidak menggunakan kertas sebagai bidang gambar, melainkan sebagai objek itu sendiri.
Melalui karya “Unfolded Memories”, mereka mempresentasikan foto-foto lama yang dicetak di atas kertas buatan tangan (handmade paper) yang dicampur dengan material organik seperti serat pisang dan daun kering. Hasilnya adalah foto yang tidak rata, bertekstur, dan memiliki bau tanah. Di sini, fotografi bukan lagi soal ketajaman piksel, melainkan soal sensori peraba dan penciuman. Ini adalah cara mereka mengkritik budaya digital yang terlalu “bersih” dan tanpa tekstur.
5. Tren “Slow Art” di Tengah Kecepatan Digital
Art Jakarta Papers 2026 juga menandai bangkitnya gerakan Slow Art di Indonesia. Menangani kertas membutuhkan kesabaran luar biasa. Satu kesalahan potong atau tetesan air yang salah bisa merusak karya yang dikerjakan berbulan-bulan.
Pengunjung pameran tahun ini tampak berbeda. Jika biasanya orang hanya lewat dan berfoto, di pameran ini banyak yang berhenti lama untuk memperhatikan detail serat kertas. Ada semacam kerinduan kolektif terhadap sesuatu yang bisa disentuh secara nyata—sesuatu yang “analog” di tengah dunia yang semakin virtual.
6. Dampak Ekonomi dan Koleksi
Menariknya, meskipun mediumnya kertas, harga karya-karya di pameran ini menembus angka yang fantastis. Kolektor seni mulai menyadari bahwa nilai sebuah karya tidak terletak pada kemewahan materialnya (seperti emas atau marmer), melainkan pada intensitas kreativitas dan kelangkaan momen penciptaannya.
Pameran ini juga memperkenalkan sertifikat kepemilikan digital yang tertanam dalam serat kertas menggunakan teknologi Smart Ink, sebuah inovasi tahun 2026 yang menggabungkan tradisi dengan keamanan masa depan.
Kesimpulan: Masa Depan yang Putih dan Bersih
Art Jakarta Papers 2026 telah membuktikan bahwa keterbatasan medium justru melahirkan kreativitas tanpa batas. Kertas, dalam segala kesederhanaannya, mampu menampung amarah Naufal Abshar, kesedihan Iwan Effendi, dan memori Ruang MES 56.
Pameran ini meninggalkan satu pesan penting: di dunia yang semakin bising dengan layar, terkadang kita hanya butuh selembar kertas kosong untuk kembali mendengarkan suara hati kita sendiri.
Daftar Seniman Utama di Art Jakarta Papers 2026:
| Nama Seniman | Medium Spesifik | Tema Karya |
| Naufal Abshar | Papier-mâché | Strategi & Satir Sosial |
| Iwan Effendi | Paper Sculpture | Identitas & Memori |
| Ruang MES 56 | Handmade Paper | Fotografi Organik |
| Siti Adinda | Origami Kontemporer | Struktur Alam & Fraktal |

